Tampilkan postingan dengan label puja trisandya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puja trisandya. Tampilkan semua postingan

Selasa, 14 Juli 2009

Kupasan Mantra Trisandya

mungkin orang hindu khususnya orang bali belum paham apa sebenarnya maksud dari trisandya. disini kami mencoba memberikan maksud dari mantra Trisandya yang terkupas dibawah ini;

Mantram Pertama

Puja Trisandhya terdiri atas 6 mantram. Mantram pertama disebut gayatri mantram, menurut nama iramanya, yaitu gayatri. Di dalam Rg Veda III. 62.10, kata bhur bhuvah svah tidak ada pada mantram ini. Tambahan bhur bhuvah svah itu terdapat pada Yajur Veda Putih 36.3. Gayatri mantram adalah mantram yang paling mulia di antara semua mantra. Ia adalah ibu mantram, dinyanyikan oleh semua mantra. la adalah ibu mantram, dinyanyikan oleh semua orang beragama Hindu waktu sembahyang.

Mengapa mantram ini yang paling mulia, ibu dari semua mantram?

Inilah keterangannya:

One reason why the gayatri is considered to be the most representative prayer in the Vedas is that is capable of possesing "dhi", higher intelligence which brings him knowledge, material and transendental. What the eye is to the body "dhi" or intelligence is to the mind. (The Call of Vedas, p. 108-109).

Artinya: Suatu sebab mengapa gayatri dipandang dan yang mewakili segala di dalam Veda ialah karena ia adalah doa untuk daya kekuatan yang dapat dimiliki orang ialah: "dhi" yaitu kecerdasan yang tinggi yang memberikan padanya pengetahuan, materi dan kemampuan mengatasi hal-hal keduniawian. Sebagai halnya mata bagi badan, demikian “dhi” atau kecerdasan untuk pikiran.


Wijaksara
Wijaksara Om adalah huruf atau suku kata suci dalam agama Hindu. Biasanya tiap-tiap mantram mulai dengan huruf ini. Pada gayatri mantram Om adalah lambang dari semua ini, alam semesta yaitu bhur loka, bhuvah loka dan svah loka.

Aum ity etad aksaram idam sarvam, tasyopavyakhayanam, bhutam bhavad bhavisyad iti sarvam aum kara eva (Mandukya Upanisad 1).

Artinya: Aum, suku kata ini adalah semua ini. Keterangan tentang ini adalah demikian: semuanya, masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang, ini semuanya hanyalah suku kata aum. Dan apapun pula yang lain di luar tiga waktu itu, tiadalah lain hanya suku kata aum saja.

Aum iti brahma, aum itidam sarvam, aum ity etad anukrtir ha sma va apyo sravayetyasravayanti aum iti samani gayanti, aum Somiti sastrani samsanti, aum ity adhvaryuh, pratigaram pratigrhati,, aum iti brahma prasauti, aum ity agnihotram anujanati, aum iti brahmanah pravaksyanmaha, brahmopapnavaniti brahmanaivopapnoti

(Taittiriya Upanisad. 1.8.1)

Artinya: Aum adalah Brahma. Aum adalah semua ini. Aum sesungguhnya ini adalah persetujuan. Dalam mengucapkan "lafalkan" mereka mengucapkan. Dengan Aum, mereka menyanyikan nyanyian saman. Dengan aum, som, mereka mengucapkan doa-doa. Dengan aum pendeta mengucapkan puji-puji pengantar. Dengan aum, sescorang mempersembahkan sajian-sajian pada api.Dengan aum seorang Brabmana mulai mengucapkan, "semoga saya sampai pada Brahman"; demikianlah karena ingin iapun sampai pada Brahman.

Isana tu ma karo'bhud, A madhyam mordhvam eva ca, Ukaro' dhas ca, Om karam iti tad viduh (Jnanasiddhanta 18.5)

Artinya: Isana adalah suara Ma, A ada di tengah-tengah, Ma di bagian atas, dan suara U di bawah, Kesatuannya disebut suara Om.


Mantram Kedua

Pada mantram ini pemuja memuja Tuhan, yang suci tak ternoda. Beliau hanya tunggal tidak ada yang kedua. Mantram ini adalah salah satu dari suatu rangkaian mantram yang panjang disebut Catur Veda Sirah (Empat Veda Kepala).

Catur Veda Sirah ini adalah salinan Narayana Upanisad, sebuah Upanisad kecil. Di sini dinyatakan bahwa Tuhan adalah segalanya yang luput dan segala noda. Tuhan itu hanya Esa belaka.


Mantram Ketiga

Oleh pemuja Tuhan yang Tunggal disebut dengan banyak nama. Beliau disebut Siwa, Mahadewa, Iswara, Parameswara, Brahma, Wisnu dan Rudra. Masih banyak lagi sebutan-Nya. Di dalam kitab-kitab suci agama Hindu kila dapati sebutan beliau berpuluh-puluh banyaknya. Tuhan dipuja orang dalam berbagai-bagai perwujudan-Nya.


Mantram Keempat

Pemuja mengatakan dirinya serba hina serba kurang serba lemah. Hina kerjanya, hina diri pribadinya, hina lahirnya. Karena itu ia mohon kepada Tuhan untuk dilindungi dan dibersihkan dari segala noda. Tuhanlah pelindung tertinggi dan Tuhanlah melimpahkan kesucian untuk dia yang setia mengamalkan ajaran-Nya. Dalam mantram ini pemuja mengatakan pengakuannya bahwa ia adalah mahluk yang lemah.


Mantram Kelima

Pemuja mohon ampun kepada Tuhan, penyelamat semua makhluk. Ia mohon dibebaskan dari semua papa, semua kehinaan dan dosa. Ia mohon untuk dijaga, karena beliaulah penjaga semua makhluk di manapun dan kapanpun juga. Tuhan adalah kuasa tertinggi atas segala yang ada ini.


Mantram Keenam

Apa saja dosa anggota badan, apa saja dosa kata-kata dan apa saja dosa pikiran, pemuja memohon kepada Tuhan untuk diampuni. Manusia tidak dapat bebas dari dosa karena ia diselubungi oleh khilaf dan lalai. Bila seseorang dapat membersihkan diri dengan amal kebajikan maka kabut kekhilafan yang menyelubungi sang Pribadi akan menipis dan akan memancarkan cahaya kesucian dari Sang Pribadi yang mengantar seseorang ke alam kesadaran. Atas dasar ini kelepasan akan lebih mudah diperoleh.


sekian dulu sedikit kupasan dari mantra Tri Sandya, semoga dipahami dan bermanfaat..

http://esotericworlds.blogspot.com/


Jumat, 26 Juni 2009

Kramaning Sembah, aturan sembahyang umat hindu

Sembahyang dilakukan umat untuk memuja Tuhan. Banyak macam sembahyang, ditinjau dari kapan dilakukannya, dengan cara apa, dengan sarana apa dan di mana serta dengan siapa melakukannya. Kemantapan hati dalam melakukan sembahyang, membantu komunikasi yang lancar dan pemuasan rohani yang tiada terhingga. Kemantapan hati itu hanya dapat kita peroleh apabila kita yakin bahwa cara sembahyang kita memang benar adanya, tahu makna yang terkandung dari setiap langkah dan cara.

Berikut ini adalah pedoman sembahyang yang telah ditetapkan oleh Mahasabha Parisada Hindu Dharma ke VI.


Persiapan sembahyang
Persiapan sembahyang meliputi persiapan lahir dan persiapan batin. Persiapan lahir meliputi sikap duduk yang baik, pengaturan nafas dan sikap tangan. Termasuk dalam persiapan lahir pula ialah sarana penunjang sembahyang seperti pakaian, bunga dan dupa sedangkan persiapan batin ialah ketenangan dan kesucian pikiran. Langkah-langkah persiapan dan sarana-sarana sembahyang adalah sebagai berikut:

Urutan-urutan sembah
Urutan-urutan sembah baik pada waktu sembahyang sendiri ataupun sembahyang bersama yang dipimpin oleh Sulinggih atau seorang Pemangku adalah seperti berikut ini:

sembahyang diawali dengan Puja Tri Sandya

Sembah puyung (sembah dengan tangan kosong)
Mantram:
Om atma tattvatma suddha mam svaha.


artinya:
Om atma, atmanya kenyataan ini, bersihkanlah hamba.


Menyembah Sanghyang Widhi sebagai Sang Hyang Aditya
Mantram:
Om Aditisyaparamjyoti,

rakta teja namo'stute,

sveta pankaja madhyastha,

bhaskaraya namo'stute


Artinya:
Om, sinar surya yang maha hebat,

Engkau bersinar merah,
hormat padaMu,
Engkau yang berada di tengah-tengah teratai putih,

Hormat padaMu pembuat sinar.

Sarana bunga

Menyembah Tuhan sebagai Ista Dewata pada hari dan tempat persembahyangan
Ista Dewata artinya Dewata yang diingini hadirnya pada waktu pemuja memuja-Nya. Ista Dewata adalah perwujudan Tuhan dalam berbagai-bagai wujud-Nya seperti Brahma, Visnu, Isvara, Saraswati, Gana, dan sebagainya. Karena itu mantramnya bermacam-macam sesuai dengan Dewata yang dipuja pada hari dan tempat itu. Misalnya pada hari Saraswati yang dipuja ialah Dewi Saraswati dengan Saraswati Stawa. Pada hari lain dipuja Dewata yang lain dengan stawa-stawa yang lain pula.
Pada persembahyangan umum seperti pada persembahyangan hari Purnama dan Tilem, Dewata yang dipuja adalah Sang Hyang Siwa yang berada dimana-mana. Stawanya sebagai berikut:
Mantra:
Om nama deva adhisthannaya,

sarva vyapi vai sivaya,
padmasana ekapratisthaya,

ardhanaresvaryai namo namah


Artinya:
Om, kepada Dewa yang bersemayam pada tempat yang inggi,
kepada Siwa yang sesungguhnyalah berada dimana-mana,
kepada Dewa yang yang bersemayam pada tempat duduk bunga teratai sebagai satu tempat, kepada Adhanaresvari, hamba menghormat
.
Sarana kawangen

Menyembah Tuhan sebagai Pemberi Anugrah
Mantra:
Om anugraha manohara,
devadattanugrahaka,
arcanam sarvapujanam,
namah sarvanugrahaka.


Deva devi mahasiddhi,

yajnanga nirmalatmaka,

laksmi siddhisca dirghayuh,

nirvighna sukha vrddhisca


Artinya:
Om, Engkau yang menarik hati,
pemberi anugerah,

anugerah pemberian dewa,
pujaan semua pujaan,

hormat pada-Mu pemberi semua anugerah.


Kemahasidian Dewa dan Dewi,
berwujud yadnya,
pribadi suci,
kebahagiaan,
kesempurnaan, panjang umur,
bebas dari rintangan,
kegembiraan dan kemajuan
.
sarana bunga

Sembah puyung (Sembah dengan tangan kosong)
Mantram:
Om deva suksma paramacintyaya nama svaha


artinya:
Om, hormat pada Dewa yang tak terpikirkan yang maha tinggi yang gaib

Setelah persembahyangan selesai dilanjutkan dengan mohon tirta dan bija.

by http://esotericworlds.blogspot.com

Tri Sandya; sekilas kewajiban yang penuh arti...

Marilah kita memuja Tuhan, Ida Hyang Widhi WaƧa

Pemujaan kepada Tuhan dapat dilaksanakan dengan banyak cara. Salah satu di antaranya ialah dengan bersembahyang tiap hari. Kita yang beragama Hindu bersembahyang tiga kali sehari, pagi, siang dan malam hari. Sembahyang demikian disebut sembahyang Trisandhya. Mantram yang dipakaipun disebut mantram Trisandhya.

Mantram ini ditulis dalam bahasa Sansekerta, bahasa orang Hindu jaman dahulu. Kita boleh bersembahyang dengan duduk bersila, duduk bersimpuh atau berdiri tegak sesuai dengan tempat yang tersedia. Sikap duduk bersila disebut padmasana. Sikap duduk bersimpuh disebut bajrasana dan yang berdiri disebut padasana.

Setelah sikap badan itu baik, dilanjutkan dengan pranayama. Pranayama artinya mengatur jalannya nafas. Gunanya: untuk menenangkan pikiran dan mendiamkan badan mengikuti jalannya pikiran, bila pikiran dan badan sudah tenang maka barulah mulai bersembahyang.

Sikap tangan waktu bersernbahyang disebut sikap amusti. Mata memandang ujung hidung dan pikiran ditujukan kepada Sanghyang Widhi. Dalam keadaan seperti itu, sabda, bayu, idep harus dalam keadaan seimbang.

Sebelum mengucapkan mantram, kedua tangan kita bersihkan dengan mantram demikian:
Tangan kanan:
Mantranya; Om suddha mam svaha
Artinya; Om bersihkanlah hamba
Tangan kiri:
Mantranya; Om ati suddha mam svaha
Artinya; Om lebih bersihkanlah hamba

Mantram Trisandhya
OM, OM, OM BHUR BHUWAH SWAH, TAT SAWITUR WARENYAM,
BHARGO DEWASYA DHIMAHI, DHIYO YO NAH PRACHODAYAT.

OM NARAYANAD EWEDAM SARWAM, YAD BHUTAM YASCA BHAWYAM,
NISKALO NIRlANO NIRWIKALPO,NlRAKSATAH SUDDHO DEWO EKO,
NARAYANA NADWITYO ASTI KASCIT.

OM TWAM SIWAH TWAM MAHADEWAH, ISWARAH PARAMESWARA,
BRAHMA WISNUSCA RUDRASCA, PURUSAH PARIKIRTITAH.

OM PAPO'HAM PAPAKARMAHAM, PAPATMA PAPASAMBHAWAH,
TRAHI MAM PUNDARIKAKSAH, SABAHYABHYANTARA SUCIH.

OM KSAMA SWAMAM MAHADEWA, SARWAPRANI HITANGKARAH,
MAM MOCCA SARWAPAPEBHYAH, PALAYASWA SADASIWA.

OM KSANTAWYA KAYIKA DOSAH. KSANTAWYO WACIKA MAMA,
KSANTAWYA MANASA DOSAH, TAT PRAMADAT KSAMASWA MAM.

OM SANTI, SANTI, SANTI OM

Terjemahannya
  • Oh.. Hyang Widhi yang menguasai ketiga dunia ini, Yang maha suci dan sumber segala kehidupan, sumber segala cahaya, semoga limpahkan pada budi nurani kami penerangan sinar cahayaMu yang maha suci.
  • Oh.. Hyang Widhi, darimulah segala yang sudah ada dan yang akan ada di alam ini berasal dan kembali nantinya. Engkau adaIah gaib, tiada berwujud, di atas segala kebingungan, tak termusnahkan. Engkau adalah maha cemerlang, maha suci, maha esa dan tiada duanya.
  • Oh.. Hyang Widhi, Engkau disebut Siwa, Mahadewa, Iswara, Parameswara, Brahma dan Wisnu dan juga Rudra. Engkau adalah asal mula dari segala yang ada.
  • Oh Hyang Widhi Wasa, hamba ini papa, jiwa hamba papa dan kelahiran hambapun papa, perbuatan hamba papa.
  • Oh.. Hyang Widhi, selamatkanlah hamba dari segala kenistaan ini, dapatlah disucikan lahir dan batin hamba, ampunilah hamba. Oh Hyang Widhi, penyelamat segala makhluk. Lepaskanlah, kiranya hamba dari segala kepapaan ini dan tuntunlah hamba, selamatkan dan lindungilah hamba oh Hyang Widhi Wasa.
  • Oh Hyang Widhi Wasa, ampunilah segala dosa hamba, ampunilah dosa dari ucapan hamba dan ampunilah pula dosa dari pikiran hamba. Ampunilah hamba atas segaIa kelalaian hamba itu.
  • Semoga damai dihati, damai didunia, damai selalu.

Uraian dan Arti Kata-kata dalam Tri Sandhya


Tri = tiga, Sandhya = sembahyang,

Om = suku kata suci, lambang Sang Hyang Widhi, Bhur = bumi, Bhuvah = langit, Svah = sorga, Tat = itu, Savitur = savita, Varenyam = Tuhan, Bhargo = cemerlang, Devasya = Dewa: Tuhan, Dhimahi = marilah kita memusatkan pikiran dhiyah pikiran, Yah = ia, Nah = kita, Prachodayat = semangat,

Narayanah = Tuhan (Narayana), Eva = hanya, Idam = ini, Sarva = semua, Yat = yang, Bhutam = yang telah ada, Bhavyam = yang akan ada, Niskalanko = bebas dari noda, Niranjano = bebas dari kotoran, Nirvikalpo = perubahan, Nirakhyatah = digambarkan, Sudda = suci, Devo = Dewa, Eko = satu, Na = tidak, Dvitiyo = kedua, Asti = ada, Kascit = yang lain,

Tvam = engkau, Sivah = Siwa; yang pengasih dan penyayang, Mahadevah = Mahadewa; Dewa yang Agung, Isvarah = Iswara; yang kuasa, Paramesvarah = penguasa yang tertinggi, Brahma = Brahma; yang mencipta, Visnuh = Wisnu; yang bekerja / memlihara, Ca = dan, Rudrah = Rudra; yang mempralina / menghancurkan Purusah = purusa; jiwa alam semesta, Parikirtitah = dipanggil,

Papa = papa/hina/nista, Aham = hamba, Papakarma = perbuatan papa, Papatma = jiwa papa, Papasambhavah = kelahiran papa, Trahi = hendaknya engkau, Mam = lindungi hamba, Pundarikasa = yang bermata, Sabahya-bhyantarah = luar dalam lahir batin, Sucih = suci bersih,

Ksamasva = hendaknya engkau ampuni, Sarvaprani-hitankara = yang membuat kebahagiaan semua makhluk, Moca = hendaknya engkau bebaskan, Sarvapapebhyah = semua dosa, Palayasva = hendaknya engkau lindungi, Sadasiva = Siwa yang kekal,

Ksantavyah = hendaknya supaya diampuni, Kayikah = anggota badan, Dosah = dosa, Vacikah = kata-kata, Mama = hamba, Manasah = pikiran, Pramadat = kelalaian.

Santih = damai.

by http://esotericworlds.blogspot.com

Senin, 08 Juni 2009

Aturan dasar melakukan sembahyang; bagi umat agama Hindu di Bali

Orang sering mengindahkan aturan yang sangat mendasar saat muspa atau sembahyang ke tempat2 suci, pada hal aturan tersebut sudah sering terngiang dan dari kecil sudah diarahkan secara tidak langsung oleh para tetua kita. Dibawah ini saya akan coba share sedikit kode etik sembahyang yang mestinya para pemeluk agama hindu mengerti (ato mungkin blm tau he he he he..).

Pakaian
Udeng (ikat kepala)
Aturannya.. bagi yang cowok n belum jadi mangku / mewinten / ekajati, tidak dianjurkan pakai udeng rurub, harus memakai udeng janggar (terbuka bag atasnya). Untuk yang cewek, memkai ikat kepala biasa tetapi yang rapi.

Baju
Gunakan baju dasar putih atau yang berwarna soft, nyaman dipakai dan sopan.

Kamen (kain).
Sesuai aturan yang baku untuk orang yang akan pulang ke timur (Gumi wayah red) tata cara memakai kamen dibali ada dua. Untuk laki-laki kain penutup kamennya berada di sebelah kanan dan slempod (simpul ikat pinggangnya) berada di sebelah kiri. Untuk perempuan kain penutupnya berada disebelah kanan, dan ikatan sentengnya berada di sebelah kiri.
Pemakaian kamen mestinya tidak menutupi mata kaki (pergelangan kaki), tetapi masih berada dibawah lutut, untuk pria dianjurkan menggunakan kacut yang lancip. Mungkin kaum muda sekarang terutama yang cewek sring saya liat memakai kancut tapi batas kainnya sampai di paha, wah... kliatan mulusnya tu... he he he he. Sbenarnya itu adalah keliru..


Saat Muspa
  • Memasuki pura hrs atur nafas dulu, agar tenang.. trus perhatikan nafas di bag hidung, yang mana terasa anginnya lebih kuat, melangkahlah dengan kaki tersebut.
  • Saat mengambil tempat duduk, dimana kleteg (prasaan/pandangan kita) tertuju langsung duduk disana, dan sekali duduk jangan gesar-geser lagi (diusahakan).. nah kan susah itu, makanya saat mengambil t4 duduk jangan langsung nyari t4 muspa dl.. tenangin dl dl trus baru nyari t4nya gt..
  • Untuk cowok duduk dengan sikap bersila (silasana) dan cewek bertimpuh (bajrasana)
  • Sebelum muspa, atur nafas tenangkan diri, sekalian do’a pembuka kita diucapkan dlm hati.
  • Lanjutkan dengan Puja Trisandya, muspa, dan ditutup dengan meditasi..
  • Sehabis muspa, saat akan meninggal kan t4 muspa td, mundur 3 langkah dl, stlh itu baru boleh pergi.
Nah segitu dulu share dari aq, mudah-mudahan bermanfaat.