Jumat, 26 Juni 2009

Sang Hyang Dasa Aksara; 10 hurup suci yang merupakan sumber alam semesta

Om Awighnam Astu Namo Siddham.
semoga tiada halangan.

Ini merupakan wejangan yang teramat mulia, diceritakan dalam setiap tubuh manusia terdapat hurup – urup yang sangat disucikan, diceritakan pula bahwa Dewa - dewa dari hurup suci tersebut bersatu menjadi sang hyang ‘dasa aksara’. Dasa aksara merupakan sepuluh hurup utama dalam alam ini yang merupakan simbol dari penguasa alam jagat raya. Dari sepuluh hurup bersatu menjadi panca brahma(lima hurup suci untuk menciptakan dan menghancurkan), panca brahma menjadi tri aksara(tiga hurup), tri aksara menjadi eka aksara (satu hurup). Ini hurupnya: “OM”. Bila sudah hafal dengan pengucapan hurup suci tersebut agar selalu di ingat dan diresapi, karena ini merupakan sumber dari kekuatan alam semesta yang terletak di dalam tubuh kita (bhuana alit) ataupun dalam jagat raya ini (bhuana agung).

Begini caranya menyatukan ataupun menempatkan sang hyang dasa aksara dalam badan ini. Yang pertama sang hyang sandhi reka yang terletak dalam badan kita ini. Beliau bertapa-beryoga sehingga beliau menjelma menjadi sang hyang eka jala resi. Sang hyang eka jala rsi beryoga muncul sang hyang ketu dan sang hyang rau.

Sang hyang rau menciptakan kala (waktu), kegelapan, niat (jahat yang sangat banyak, sedangkan sang hyang ketu menciptakan tiga aksara yang sangat berguna, diantaranya wreasta (ha, na, ca, ra, ka, da, ta, sa, wa, la, ma, ga, ba, nga, pa, ja, ya, nya), beserta swalalita dan modre. Sehingga jumlah hurupnya adalah dua puluh hurup. Aksara modre bersatu dengan sembilan hurup wreasta yaitu dari ha –wa, yang kemudian disebut dasa sita. Aksara swalelita, bersatu dengan sembilan hurup wreasta lainnya yaitu dari la – nya, yang kemudian disebut ‘dasa sila’ dan ‘dasa bayu’. Bertemu ketiga induk dari aksara suci tersebut; dasa sita, dasa sila, dasa bayu menjadi ‘dasa aksara’.

begini cara menempatkan sang hyang dasa aksara didalam badan;
  • Sa ditempatkan di jantung,
  • Ba ditempatkan di hati,
  • Ta ditempatkan di kambung,
  • A ditempatkan di empedu,
  • I ditempatkan di dasar hati,
  • Na ditempatkan di paru - paru,
  • Ma ditempatkan di usus halus,
  • Si ditempatkan di ginjal,
  • Wa ditempatkan di pancreas,
  • Ya ditempatkan di ujung hati.
Dasa aksara diringkas menjadi panca brahma (sa, ba, ta, a, i). panca brahma diringkas menjadi tri aksara (a, u, ma). Setelah itu baru turun arda candra (bulan sabit), windu (lingkaran) dan nada (titik). Baru boleh di ucapkan sang, bang, tang, ang, ing, nang, mang, sing, wang, yang.

lafalkan aksara tersebut lalu letakkan dalam tubuh kita dan alam semesta. Ini rangkuman intisari dari sastra yang berjumlah lima hurup, yang digunakan untuk memuja tuhan, memanggil, menghaturkan persembahan, memohon anugrah dari tuhan YME, diantaranya:

mantra untuk memuja tuhan, Mang Ang Ong Ung Yang.
mantra untuk memanggil agar tuhan berkenan hadir, Ang Ong Ung Yang Mang.
mantra untuk mempersembahan sesajen jamuan dari kita, Ong Ung Yang Mang Ang.
mantra untuk memohon anugrah dari tuhan YME, Ung Yang Mang Ang Ong.

yang disebut panca tirta, ini aksaranya:
  • sang sebagai tirta sanjiwani, untuk pangelukatan (membersihkan).
  • Bang sebagai tirta kamandalu, untuk pangeleburan (menghancurkan).
  • Tang merupakan tirta kundalini, utuk pemunah (menghilangkan).
  • Ang merupakan tirta mahatirta, untuk kasidian (agar sakti).
  • Ing merupakan tirta pawitra, untuk pangesengan (membakar).
Ini yang dikatakan panca brahma, berada dalam diri manusia. Ini aksaranya;
  • Nang disimpan di suara.
  • Mang disimpan di tenaga
  • Sing disimpan di hati/perasaan
  • Wang disimpan di pikiran
  • Yang disimpan di nafas.
Kemudian balikkan hurup tersebut:
  • Yang disimpan di jiwa
  • Wang disimpan di guna/aura
  • Sing disimpan di pangkal tenggorokan
  • Mang disimpan di lidah
  • Nang disimpan di mulut
Ini menyimpan Rwa bhineda (dua sisi dunia), ini suaranya; Ong Ung. Ong di hati putih, ung di hati hitam. Ung di empedu, ong di pancreas. Ong di dubur, ung di usus.

Ini suara inti sari; ekam evam dwityam Brahman, disebut ONG. Berupa api rwa bhineda Ang, berupa air rwa bineda Ah.

dasar mantra antuk tri aksara; Mang Ang Ung
kemulan mantra; Ang Ung Mang
pengastiti widhi dewa bethara; Ung Mang Ang
iki pengeraksa jiwa antuk catur aksara; Mang Ang Ung Ong
pengundang bhuta dengen antuk kahuripan; Ang Ung Ong Mang
pemageh bayu ring raga antuk catur resi; Ung Ong Mang Ang
pangemit bayu antuk catur dewati; Ong Mang Ang Ung

ini pertemuan sastra yang delapan belas (wreastra), bertemu ujung dengan pengkalnya menjadi dasa aksara, diantaranya;
  • ha – nya menjadi sang
  • na – ya menjadi nang
  • ca – ja menjadi bang
  • ra – pa menjadi mang
  • ka – nga menjadi tang
  • da – ba menjadi sing
  • ta – ga menjadi ang
  • sa – ma menjadi wang
  • wa– la menjadi ing, yang
ini merupakan maksud dari sastra wreastra, dibaca dari belakang. diantaranya;
  • nyaya berarti sang Hyang Pasupati, Tuhan
  • japa berarti Sang hyang mantra,
  • ngaba berarti Sang Hyang guna,
  • gama berarti kekal, abadi,
  • lawa berarti manusia,
  • sata berarti hewan dan binatang,
  • daka berarti pendeta, nabi, orang suci
  • raca berarti tumbuhan
  • naha berarti moksa, nirvana.
demikianlah sastra yang ada di alam ini yang berada juga didalam tubuh kita. Jagalah kesucian dan keseimbangan dari hurup suci tersebut. Semoga setelah membaca dan meresapi sastra ini, dunia ini akan menjadi semakin sejahtera.

by http://esotericworlds.blogspot.com

Kramaning Sembah, aturan sembahyang umat hindu

Sembahyang dilakukan umat untuk memuja Tuhan. Banyak macam sembahyang, ditinjau dari kapan dilakukannya, dengan cara apa, dengan sarana apa dan di mana serta dengan siapa melakukannya. Kemantapan hati dalam melakukan sembahyang, membantu komunikasi yang lancar dan pemuasan rohani yang tiada terhingga. Kemantapan hati itu hanya dapat kita peroleh apabila kita yakin bahwa cara sembahyang kita memang benar adanya, tahu makna yang terkandung dari setiap langkah dan cara.

Berikut ini adalah pedoman sembahyang yang telah ditetapkan oleh Mahasabha Parisada Hindu Dharma ke VI.


Persiapan sembahyang
Persiapan sembahyang meliputi persiapan lahir dan persiapan batin. Persiapan lahir meliputi sikap duduk yang baik, pengaturan nafas dan sikap tangan. Termasuk dalam persiapan lahir pula ialah sarana penunjang sembahyang seperti pakaian, bunga dan dupa sedangkan persiapan batin ialah ketenangan dan kesucian pikiran. Langkah-langkah persiapan dan sarana-sarana sembahyang adalah sebagai berikut:

Urutan-urutan sembah
Urutan-urutan sembah baik pada waktu sembahyang sendiri ataupun sembahyang bersama yang dipimpin oleh Sulinggih atau seorang Pemangku adalah seperti berikut ini:

sembahyang diawali dengan Puja Tri Sandya

Sembah puyung (sembah dengan tangan kosong)
Mantram:
Om atma tattvatma suddha mam svaha.


artinya:
Om atma, atmanya kenyataan ini, bersihkanlah hamba.


Menyembah Sanghyang Widhi sebagai Sang Hyang Aditya
Mantram:
Om Aditisyaparamjyoti,

rakta teja namo'stute,

sveta pankaja madhyastha,

bhaskaraya namo'stute


Artinya:
Om, sinar surya yang maha hebat,

Engkau bersinar merah,
hormat padaMu,
Engkau yang berada di tengah-tengah teratai putih,

Hormat padaMu pembuat sinar.

Sarana bunga

Menyembah Tuhan sebagai Ista Dewata pada hari dan tempat persembahyangan
Ista Dewata artinya Dewata yang diingini hadirnya pada waktu pemuja memuja-Nya. Ista Dewata adalah perwujudan Tuhan dalam berbagai-bagai wujud-Nya seperti Brahma, Visnu, Isvara, Saraswati, Gana, dan sebagainya. Karena itu mantramnya bermacam-macam sesuai dengan Dewata yang dipuja pada hari dan tempat itu. Misalnya pada hari Saraswati yang dipuja ialah Dewi Saraswati dengan Saraswati Stawa. Pada hari lain dipuja Dewata yang lain dengan stawa-stawa yang lain pula.
Pada persembahyangan umum seperti pada persembahyangan hari Purnama dan Tilem, Dewata yang dipuja adalah Sang Hyang Siwa yang berada dimana-mana. Stawanya sebagai berikut:
Mantra:
Om nama deva adhisthannaya,

sarva vyapi vai sivaya,
padmasana ekapratisthaya,

ardhanaresvaryai namo namah


Artinya:
Om, kepada Dewa yang bersemayam pada tempat yang inggi,
kepada Siwa yang sesungguhnyalah berada dimana-mana,
kepada Dewa yang yang bersemayam pada tempat duduk bunga teratai sebagai satu tempat, kepada Adhanaresvari, hamba menghormat
.
Sarana kawangen

Menyembah Tuhan sebagai Pemberi Anugrah
Mantra:
Om anugraha manohara,
devadattanugrahaka,
arcanam sarvapujanam,
namah sarvanugrahaka.


Deva devi mahasiddhi,

yajnanga nirmalatmaka,

laksmi siddhisca dirghayuh,

nirvighna sukha vrddhisca


Artinya:
Om, Engkau yang menarik hati,
pemberi anugerah,

anugerah pemberian dewa,
pujaan semua pujaan,

hormat pada-Mu pemberi semua anugerah.


Kemahasidian Dewa dan Dewi,
berwujud yadnya,
pribadi suci,
kebahagiaan,
kesempurnaan, panjang umur,
bebas dari rintangan,
kegembiraan dan kemajuan
.
sarana bunga

Sembah puyung (Sembah dengan tangan kosong)
Mantram:
Om deva suksma paramacintyaya nama svaha


artinya:
Om, hormat pada Dewa yang tak terpikirkan yang maha tinggi yang gaib

Setelah persembahyangan selesai dilanjutkan dengan mohon tirta dan bija.

by http://esotericworlds.blogspot.com